Sejarah Matematika di Indonesia

Sejarah Matematika di Indonesia dimulai dari adanya seorang tokoh Matematika. Dokter matematika pertama dari Indonesia adalah Dr. G.S.S.J. Ratu Langie alias dr. Sam Ratulangi dari Sulawesi Utara. Ia meraih gelar doktornya 1919 di Universitas Zurich dengan sistem Curve disertasinya dengan angka yang lengkap. Hampir 40 tahun kemudian, Profesor Handali (pensiunan dosen ITB) memperoleh gelar doktor pada tahun 1957 di FIPIA-ITB dengan disertasinya tentang angka nol dari polinomial Dari b (z) – zf ‘(z), sedangkan almarhum Profesor moedomo ( ITB) memperoleh gelar doktornya pada tahun 1959 di Universitas Illinois dengan tesis PhD-nya. Sebuah Teori Representasi untuk Transformasi Laplace dari fungsi-fungsi bernilai-vektor. Karya pertama pria Indonesia yang termasuk dalam tinjauan matematis adalah karya Moedomo dan JJ Uhl Jr. “Teorema Radon-Nikodym untuk Bochner dan Pettis Integals,” diterbitkan dalam Jurnal Pasifik 1971 Matematika,

Sejarah Matematika di Indonesia

Kurikulum terus berubah di Indonesia. Perubahan kurikulum dapat mempengaruhi perubahan dalam proses pembelajaran di Indonesia. Hal yang sama berlaku untuk kurikulum matematika, yang secara bertahap mengubah proses pembelajaran.

Di Indonesia, sejak 1968, ada beberapa perubahan pada kurikulum matematika sekolah. Berdasarkan tahun-tahun perubahan untuk setiap kurikulum, nama kurikulum berikut telah diidentifikasi: Kurikulum 1968, Kurikulum 1975, Kurikulum 1984, Kurikulum 1996 dan 1999. Pada tahun 2002, kurikulum yang disebut “Kurikulum Berbasis Kompetensi” (CBK) dibentuk, dan juga Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) diterbitkan.

Perkembangan pendidikan matematika pada tahun 1968 memiliki karakteristik sebagai berikut:
a) Ketika mengajar geometri, penekanannya lebih pada aritmatika. Sebagai contoh, menghitung luas geometri datar atau volume geometri ruangan tidak berarti bagaimana rumus untuk perhitungan ini diperoleh. (Ruseffendi, 1985, hal.33)
b) Lebih menekankan pada penghafalan daripada mekanis (Ruseffendi, 1979, hal. 2)
c) Menghitung program tidak banyak memperhitungkan aspek kontinuitas dengan materi pada tingkat berikutnya dan kurang terhubung dengan dunia luar (Ruseffendi, 1979, hal. 4).
d) Presentasi materi tidak memberikan kesempatan untuk meningkatkan motivasi dan rasa ingin tahu anak-anak (Ruseffendi, 1979, hal. 5).

Pada tahun 1975, pengajaran matematika di Indonesia telah sangat berubah. Dimulai dengan penerapan matematika modern. Menurut Ruseffendi (1979, pp. 12-14), matematika modern memiliki karakteristik sebagai berikut:
di. Topik baru diperkenalkan: kalimat, geometri, bidang dan ruang, statistik dan probabilitas, hubungan, sistem angka lama dan menulis simbol angka non-desimal. Selain itu, konsep-konsep baru seperti penggunaan majelis, pendekatan untuk pendidikan matematika spiral, dan pelajaran geometri dengan busur dimulai.
b. Ada pergeseran dari pengajaran yang menekankan hafalan ke instruksi rutin
c. Pertanyaan yang diajukan lebih disukai untuk pemecahan masalah dan bukan rutinitas.
d. Ada kontinuitas dalam penyajian bahan ajar antara sekolah dasar dan menengah
e. Ada penekanan pada struktur
f. Kurikulum dalam matematika modern mencurahkan lebih banyak perhatian pada keragaman siswa
g. Ada upaya untuk menggunakan istilah yang benar.
h. Ada pergeseran dari instruksi yang berpusat pada guru ke instruksi yang berpusat pada siswa
i. Sebagai hasil dari pengajaran yang berpusat pada siswa, banyak metode pengajaran digunakan untuk menemukan dan memecahkan masalah dengan teknik diskusi.
j. Tujuannya adalah untuk mengajarkan pelajaran matematika dengan cara yang menarik, misalnya melalui permainan, teka-teki atau kegiatan lapangan.

Perubahan silabus dari 1975 hingga 1984 tidak terlalu besar dalam hal materi dan metode pengajaran. Perbedaan utama dengan silabus sebelumnya, yang dimulai pada 1984 dengan diperkenalkannya komputer, diberikan. Menurut Ruseffendi (1988, hal. 102), penggabungan materi komputer ke dalam kurikulum matematika sekolah merupakan suatu kemajuan. Hal ini dapat dimengerti karena penggunaan alat-alat canggih seperti komputer dan kalkulator dapat memungkinkan siswa untuk melakukan kegiatan eksplorasi dalam proses matematika mereka menggunakan pola angka dan grafik.

Pada tahun 1994, kegiatan matematika internasional begitu meluas sehingga dianggap sebagai Olimpiade matematika. Indonesia mungkin tidak berpartisipasi di Olimpiade, tetapi jarang mendapat medali. Oleh karena itu, kurikulum 1994 diciptakan. Pada saat itu, matematika menjadi subjek yang menarik di akhir setiap topik. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan, agar siswa dapat menyelesaikan masalah kehidupan sehari-hari. Setelah beberapa dekade, Indonesia menggantikan kurikulum dalam kurikulum 2004 atau disebut sebagai kurikulum berbasis kompetensi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *